oke128

Jakarta – “Aku suka Rusia, bahasanya dan budayanya,” ujar Aminata, yang baru berusia 20 tahun, kepada DW. Ia ingin meninggalkan tanah kelahirannya, Sierra Leone, dalam beberapa pekan ke depan, untuk menempuh program magang di Rusia, 7000 kilometer dari tanah airnya.
Biaya perjalanannya akan ditanggung oleh program Alabuga Start, yang dinamai sesuai kawasan industri di barat daya Rusia, tempat para peserta program disediakan asrama.
bagaimana latency dan koneksi internet tidak mempengaruhi rtp penjelasan teknisnya
Alabuga Start menawarkan prospek karier dengan penghasilan baik bagi para pelamar perempuan dari negara-negara kurang mampu.

Mimpi yang berantakan
Bagi kebanyakan dari mereka, mimpi itu hancur tak lama setelah tiba di Kawasan Ekonomi Khusus Alabuga sebuah kawasan industri besar di wilayah Tatarstan, Rusia.

Menurut laporan yang diterbitkan pada bulan Mei oleh Global Initiative against Transnational Organized Crime, banyak pendatang baru “dirantai” untuk merakit drone murah di bawah kondisi yang buruk.

DW menghubungi beberapa peserta program—kebanyakan dari mereka enggan berbicara terbuka demi alsan keamanan.

Chinara, seorang perempuan muda asal Nigeria yang ikut program Alabuga dan meninggalkan Rusia dengan penuh kekecewaan, bersedia diwawancarai melalui layanan pesan media sosial.

Dewalive Asia

“Mereka mengubah kami menjadi pekerja berat dengan upah rendah,” tulisnya dalam obrolan dengan DW.

“Awalnya kami merasa baik karena saat melamar, kami ditawari bidang seperti logistik, pelayanan dan katering, operator derek,” kata Chinara, namanya disamarkan demi menjaga identitasnya.

Ia menjelaskan bahwa pada awalnya ini tampak seperti kesempatan langka bagi perempuan Afrika untuk menjejakkan kaki dalam profesi tersebut. “Namun saat kami tiba di sana, semuanya berubah dan mereka memberikan alasan-alasan.”

Sebagian ditugaskan di pabrik perakitan drone, sebagian mengawasi produksi drone, dan sisanya bekerja sebagai petugas kebersihan.

Perempuan muda ini terpapar bahan kimia yang “sangat berbahaya dan mengancam nyawa,” klaim Chinara, seraya menambahkan, “bahkan orang Rusia sendiri tak bertahan lama bekerja di sana karena tempat itu sangat berbahaya.”

Pusat ekonomi perang
Zona ekonomi khusus Alabuga adalah pusat produksi utama drone Geran-2, yang didasarkan pada Shahed 136 buatan Iran dan memainkan peranan kunci dalam serangan ke Ukraina.

Zona ini didirikan pada 2006 untuk menarik perusahaan dan investasi ke Tatarstan. Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, fasilitas ini berkembang pesat dan sebagian diubah menjadi produksi militer dengan menambah atau merenovasi bangunan, seperti yang terlihat dari citra satelit.

Kelangkaan tenaga kerja sering dilaporkan dari Rusia yang dilanda perang. Di saat yang sama, pekerja migran dari belahan bumi selatan tampaknya menjadi fokus perekrut. Menurut data dari Sistem Informasi dan Statistik Antar Departemen Tunggal (SIISS), basis data resmi pemerintah Rusia, lebih dari 111.000 pekerja Afrika tiba di Rusia pada 2024—kenaikan 50% dibandingkan tahun pertama perang pada 2022.

Pertumbuhan paling pesat dicatat dari warga Kamerun, diikuti banyak lainnya dari Nigeria, Burkina Faso, Togo, Republik Afrika Tengah, dan Gambia.

Hampir semua negara ini muncul dalam studi Global Initiative terkait program Alabuga Start. Awalnya, menurut studi tersebut, yang direkrut terutama adalah perempuan Afrika berusia antara 18 hingga 22 tahun.

Program ini sejak itu diperluas ke negara-negara berkembang lain di Asia dan Amerika Latin, serta beberapa bekas republik Soviet.

Para penulis studi menganalisis data dan melakukan sekitar 60 wawancara antara Desember 2024 hingga Maret 2025.

Rekan penulis Julia Stanyard berkata kepada DW bahwa perempuan 16 tahun juga dipekerjakan untuk produksi drone oleh fasilitas pelatihan Politeknik Alabuga yang berada di lokasi produksi.

“Kondisi kerja sangat eksploitatif, perempuan muda bercerita bekerja berjam-jam di bawah pengawasan manajemen Alabuga. Mereka bekerja dengan bahan kimia yang membahayakan kesehatan,” kata Stanyard.

‘Putri kami bercerita tentang kerja paksa’
“Program ini tampaknya menyerupai bentuk eksploitasi tipu daya,” ujar Stanyard kepada DW. “Mereka tidak diberi tahu apa yang akan mereka produksi saat direkrut. Banyak gadis muda terjebak di Alabuga dan meninggalkan negara itu tampak mustahil.”

Di Zimbabwe, para orang tua khawatir dengan anak-anak mereka yang mendaftar secara online dan berangkat ke Rusia dengan tiket pesawat yang dibayar oleh Alabuga.

Seorang ibu dari seorang gadis di pedesaan utara Zimbabwe mengeluhkan penderitaan anaknya. “Dia ingin melanjutkan pendidikan teknis. Sekarang dia menceritakan tentang kerja paksa, hampir tidak diizinkan menggunakan ponsel dan dia diawasi ketat.

Dia belum menerima upah $1.500 yang dijanjikan,” katanya kepada DW. “Sekarang aku bahkan tak bisa membawanya pulang kembali.”

Seorang ayah dari gadis lain yang meninggalkan Zimbabwe ke Alabuga mengatakan kepada DW bahwa itu adalah mimpi buruk ketika program pelatihan yang seharusnya dapat dipercaya berubah menjadi “jebakan maut.”

Dan seorang ibu di ibu kota Zimbabwe, Harare, bercerita kepada DW tentang putrinya yang berusia 20 tahun di Alabuga, yang seharusnya menjalani pelatihan teknis.

“Tapi dia melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda. Kami hampir tidak bisa berbicara dengannya, paspornya disita agar dia tak bisa melarikan diri,” kata perempuan itu kepada DW.

Interpol menyelidiki di Botswana
Di negara tetangga Botswana, program pelatihan kini menarik perhatian penyidik: Interpol turun tangan menyelidiki apakah Alabuga Start terlibat dalam perdagangan manusia.

“Topeng palsu Alabuga mulai sedikit retak,” kata Stanyard, mencatat beberapa negara—seperti Kenya, Uganda, dan Tanzania—semakin menyadari risiko program ini dan telah meluncurkan penyelidikan.

Program Alabuga Start tidak menanggapi permintaan dari DW untuk memberi tanggapan.

Garikai Mafirakureva di Zimbabwe dan Aleksei Strelnikov turut berkontribusi dalam peliputan artikel ini.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman.

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Hendra Pasuhuk

Cuan128 Login

Jakarta – Honda  memperkenalkan motor naked sport terbaru bermesin 125 cc untuk pasar Eropa. Motor bergaya sporty ini memiliki keunggulan berupa konsumsi bahan bakar yang sangat efisien. Bahkan saking iritnya, saat tangki bensin terisi penuh, motor ini bisa melaju sejauh 730 km! Kira-kira seperti jarak Jakarta-Surabaya. Dikutip dari situs MCN, Honda memperkenalkan motor sport entry level CB125F dengan penambahan fitur start stop system, atau Honda menyebutnya sebagai Idling Stop System (ISS). Fitur ISS adalah fitur yang jamak digunakan pada motor matic Honda. Dengan fitur ISS, mesin akan otomatis mati saat dalam posisi berhenti, seperti misalnya sedang berada di kondisi lampu merah. Mesin otomatis akan nyala kembali ketika gas diputar sembari menarik tuas kopling. Penambahan fitur tersebut semakin membuat motor ini efisien bahan bakar. Klaimnya, Honda CB125F 2025 bisa menempuh jarak lebih dari 730 km saat tangki bensin terisi penuh. Sebagai catatan, motor ini punya kapasitas tangki 11 liter. Maka jika dibagi dengan klaim jarak tempuh 730 km, CB125F bisa mencatatkan konsumsi bahan bakar rata-rata 66,4 km per liter. Irit banget kan? Soal mesin tak banyak yang berubah. Masih mengandalkan mesin 125 cc, berpendingin udara, dua katup, yang bisa menghasilkan tenaga maksimal 10,55 dk dan torsi 10,8 Nm, dan sudah lolos regulasi emisi Euro5+. Motor ini menggunakan transmisi manual lima percepatan. Honda juga telah mengintegrasikan teknologi Smart Power (eSP) yang disempurnakan – termasuk rekayasa gesekan rendah seperti silinder offset, bantalan rol untuk lengan rol/ayun, dan jet oli piston – untuk memaksimalkan penghematan, meminimalkan keausan mesin, dan memastikan pengoperasian yang hampir senyap. Secara desain, Honda CB125F telah mengalami penyegaran besar dengan bodywork yang lebih tajam, lampu LED baru di bagian depan dan belakang, serta knalpot berwarna hitam. Selain itu, motor ini juga dibekali dasbor TFT berwarna 4,2 inci lengkap dengan konektivitas Bluetooth, tampilan indikator bahan bakar, indikator posisi gigi, pengisian daya ponsel USB‑C, navigasi turn by turn, dan bahkan kontrol musik atau panggilan dengan headset yang dipasangkan. Honda tetap menjaga kesederhanaan pada sasisnya, mempertahankan rangka baja yang digunakan sebelumnya, bersama dengan velg 18 inci di depan dan belakang yang dibalut ban tipis. Belum diketahui akan dijual harga berapakah motor sport irit ini.  

oke128

Slot demo

Beijing – Tsinghua Unigroup Co adalah perusahaan teknologi dan semikonduktor milik negara China yang juga memasok infrastruktur dan layanan digital ke pasar domestik dan global. Berkantor pusat di Beijing, perusahaan ini merupakan salah satu konglomerat teknologi terbesar di negara tersebut. Dikutip detikINET dari South China Morning Post, Senin (19/5/2025) anak perusahaannya termasuk UNISOC, perancang chip telepon seluler terbesar di China. Smartphone dengan chip UNISOC bertebaran ke seluruh dunia termasuk di Indonesia. Tsinghua  Unigroup awalnya didirikan tahun 1988 oleh Tsinghua Holdings, unit bisnis milik Universitas Tsinghua, universitas negeri di China dengan riset elit yang berkedudukan di Beijing. Perusahaan ini didirikan dengan nama Tsinghua University Sci-Tech General Company, lalu diubah namanya menjadi Tsinghua Unigroup pada tahun 1993. Karena Tsinghua adalah universitas negeri, Tsinghua Unigroup juga menjadi BUMN di China. Mantan bosnya yang dihukum mati Zhao Weiguo, juga adalah lulusan Universitas Tsinghua. Ia diangkat menjadi CEO Tsinghua Unigroup pada tahun 2009, kemudian diangkat menjadi chairman tahun 2013. Di bawah kepemimpinan Zhao, Tsinghua Unigroup agresif melakukan akuisisi. Mereka terkenal pernah dikenal pernah ingin membeli produsen chip Amerika Serikat Micron Technology pada tahun 2015 senilai USD 23 miliar walau akhirnya gagal. Mereka juga melakukan ekspansi agresif ke berbagai bidang di luar chip, termasuk keuangan, properti, energi, dan pendidikan. Namun aksi itu membebani perusahaan dan mereka mengajukan restrukturisasi kebangkrutan atas perintah pengadilan pada bulan Juli 2021. Krisis utang perusahaan sudah meledak tahun 2020 dengan arus kas menurun dan menghadapi tekanan melunasi utang jatuh tempo di pasar dalam negeri dan luar negeri. Pada November 2020, Tsinghua Unigroup gagal membayar obligasi senilai USD 198 juta sebelum dinyatakan bangkrut. Kebangkrutan merupakan kejatuhan besar bagi Unigroup, yang pernah dianggap pemain utama dalam upaya Beijing mandiri dalam industri semikonduktor di tengah meningkatnya perang teknologi Amerika Serikat dengan China. Pada tahun 2022, Tsinghua Unigroup menyelesaikan rencana restrukturisasi yang dikendalikan oleh Wise Road Capital, Jianguang Asset Management, dan sejumlah entitas yang berafiliasi dengan negara. Kebangkrutan Tsinghua Unigroup dinilai pengadilan merupakan tanggung jawab Zhao Weiguo yang mengelola perusahaan dengan serampangan. Pengadilan di Provinsi Jilin pun menjatuhi hukuman mati dengan masa penangguhan hukuman selama 2 tahun. Artinya, dia akan dieksekusi jika dia terbukti melakukan aksi kriminal tambahan di periode itu.

oke128

Slot demo